Euthanasia Dalam Pandangan Hukum Indonesia dan Teori Hukum Alam

            Eutanasia (Bahasa Yunani: ευθανασία -ευ, eu yang artinya “baik”, dan θάνατος, thanatos yang berarti kematian) adalah praktik pencabutan kehidupan manusia atau hewan melalui cara yang dianggap tidak menimbulkan rasa sakit atau menimbulkan rasa sakit yang minimal, biasanya dilakukan dengan cara memberikan suntikan yang mematikan.[1]

Dilihat dalam prakteknya, euthanasia tergolong menjadi dua macam. euthanasia positif atau aktif dan euthanasia negatif atau pasif. Euthanasia positif adalah tindakan dokter mempercepat kematian pasien dengan memberikan suntikan ke dalam tubuh pasien tersebut. Suntikan diberikan pada saat keadaan penyakit pasien sudah sangat parah atau sudah sampai pada stadium akhir, yang menurut perhitungan medis sudah tidak mungkin lagi bisa sembuh atau bertahan lama. Alasan yang biasanya dikemukakan dokter adalah bahwa pengobatan yang diberikan hanya akan memperpanjang penderitaan pasien serta tidak akan mengurangi sakit yang memang sudah parah

Contohnya, seorang yang menderita kanker ganas dengan rasa sakit yang luar biasa hingga penderita sering pingsan. Dalam hal ini dokter yakin bahwa yang bersangkutan akan meninggal dunia. Kemudian dokter memberinya obat dengan takaran tinggi (overdosis) yang sekiranya dapat menghilangkan rasa sakitnya, tetapi menghentikan pernapasannya sekaligus.

Sedangkan euthanasia negatif adalah tindakan dokter menghentikan pengobatan pasien yang menderita sakit keras, yang secara medis sudah tidak mungkin lagi dapat disembuhkan. Penghentian pengobatan ini berarti mempercepat kematian pasien. Alasan yang lazim dikemukakan dokter adalah karena keadaan ekonomi pasien yang terbatas, dana yang dibutuhkan untuk pengobatan sangat tinggi, dan fungsi pengobatan menurut perhitungan dokter sudah tidak efektif lagi. Terdapat tindakan lain yang bisa digolongkan euthanasia pasif, yaitu tindakan dokter menghentikan pengobatan terhadap pasien yang menurut penelitian medis masih mungkin sembuh. Alasan yang dikemukakan dokter umumnya adalah ketidakmampuan pasien dari segi ekonomi, yang tidak mampu lagi membiayai dana pengobatan yang sangat tinggi.

Contohnya orang yang mengalami keadaan koma yang sangat lama. Dalam keadaan demikian ia hanya mungkin dapat hidup dengan mempergunakan alat bantu pernapasan di ruang ICU atau ICCU.[2] Alat pernapasan itulah yang memompa udara ke dalam paru-parunya dan menjadikannya dapat bernapas secara otomatis. Jika alat pernapasan tersebut dihentikan, si penderita tidak mungkin dapat melanjutkan pernapasannya.

Ada yang menganggap bahwa orang sakit seperti ini sebagai `orang mati` yang tidak mampu melakukan aktivitas. Maka memberhentikan alat pernapasan itu sebagai cara yang positif untuk memudahkan proses kematiannya.

Setelah melihat berbagai sumber dan sedikit memahami konsep euthanasia, saya pribadi sangat tidak setuju dengan adanya praktek demikian dalam dunia medis. Namun banyak sumber yang memiliki perbedaan pendapat, bahwa euthanasia dapat diberlakukan dengan alasan tertentu.

Mereka yang menyetujui tindakan euthanasia berpendapat bahwa euthanasia adalah suatu tindakan yang dilakukan dengan persetujuan dan dilakukan dengan tujuan utama menghentikan penderitaan pasien. Prinsip kelompok ini adalah manusia tidak boleh dipaksa untuk menderita. Dengan demikian, tujuan utama kelompok ini yaitu meringankan penderitaan pasien dengan memperbaiki resiko hidupnya.

Kelompok yang kontra terhadap euthanasia berpendapat bahwa euthanasia merupakan tindakan pembunuhan terselubung, karenanya bertentangan dengan kehendak Tuhan. Kematian semata-mata adalah hak dari Tuhan, sehingga manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan tidak mempunyai hak untuk menentukan kematiannya.

Saya berpendapat bahwa euthanasia adalah suatu tindakan yang juga menciderai nilai-nilai Hak Asasi Manusia sebagaimana yang tersirat pada amandemen UUD NRI 1945 Pasal 28A.

Dilihat dari sudut pandang hukum positif, euthanasia juga dikualifikasikan dalam Pasal 344 KUHP “Barang siapa menghilangkan jiwa orang lain atas permintaan orang itu sendiri, yang disebutkannya dengan nyata & sungguh-sungguh dihukum penjara selama-lamanya duabelas tahun.”

Ditinjau dari sudut agama, Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma’ruf Amin mengatakan MUI telah lama mengeluarkan fatwa yang mengharamkan dilakukannya tindakan Euthanasia (tindakan mematikan orang untuk meringankan penderitaan sekarat).[3]

Dikaitkan dengan Teori Hukum Alam, hukum itu berlaku secara universal dan bersifat pribadi, Hukum alam dipengaruhi oleh pandangan atau keyakinan bahwa seluruh alam semesta yang ada dimana diciptakan dan diatur oleh Tuhan. dan hukum alam ini berakar pada suatu aturan alam metafisis sebagaimana direncanakan Tuhan YME.[4]

Menyikapi masalah euthanasia, dalam firmannya Allah SWT “Dan barang siapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah neraka jahanam, kekal ia didalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutuknya serta menyediakan azab yang besar baginya.” (QS An-Nisa’ : 93)

“Janganlah kalian membunuh jiwa yang diharamkan Allah (untuk membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar.” (QS al-An‘am [6]: 151)

Karena itu, apapun alasannya (termasuk faktor kasihan kepada penderita), tindakan euthanasia jelas tidak dapat diterima. Di dunia ini tidaklah boleh dari seorangpun untuk mendahului segala sesuatu tanpa kehendak sang kuasa.

Orang yang menghendaki euthanasia, walaupun dengan penuh penderitaan bahkan kadang-kadang dalam keadaan sekarat dapat dikategorikan putus asa, dan putus asa tidak diperbolehkan dihadapan Allah SWT. Tapi tidak pas juga rasanya bila putusan hakim dalam pidana mati pada seseorang yang segar bugar, dan tentunya sangat tidak ingin mati, dan tidak dalam penderitaan apalagi sekarat, tidak pernah dikaitkan dengan argumentasi teori hukum alam apalagi dikaitkan dengan agama.

Alasan yang menjelaskan bahwa euthanasia membawa nilai-nilai kekuatan Hak Asasi Manusia harus benar-benar ditegakkan, manusia berhak untuk hidup,berhak untuk memiliki penghidupan yang layak.

Benar bahwa manusia tidaklah hanya bergantung pada takdir Allah SWT, jika hanya saja menunggu takdir Allah mungkin di dunia ini tidak ada manusia yang berobat ke dokter saat sakit. Kalau seseorang berupaya mengobati penyakitnya maka dapat pula diartikan sebagai upaya memperpanjang umur atau menunda proses kematian.

Suatu nilai kemanusian yang dapat diambil dari peristiwa ini adalah manusia harus kembali pada hukum alam dimana segala sesuatunya hanyalah milik Sang Pencipta. Sebagai manusia kita hanya mampu berusaha yang terbaik, namun juga tidak melupakan awal dimana hukum ini tercipta. Selain dari hukum Tuhan tersebut juga adanya lex eternal atau norma-norma yang timbul dari dalam diri sendiri.(Inun Miftahul)


[1] Dikutip dari Wikipedia, Euthanasia.

[2] Dikutip dari berbagai sumber euthanasia positif/aktif dan euthanasia negative/pasif.

[3] hidayatullah.com, MUI Haramkan Euthanasia, Saturday, 23 October 2004 04:21 Nasional

[4] Disadur dari berbagai resensi yang mengatakan bahwa teori hukum alam adalah bersumber kepada Tuhan YME

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: