Makna 1 Suro

Kegiatan menyambut bulan Suro ini sudah berlangsung sejak berabad-abad yg lalu. Dan kegiatan yg berulang-ulang tersebut akhirnya menjadi kebiasaan serta menjadi tradisi yg pasti dilakukan di setiap tahunnya. Itulah yg kemudian disebut budaya dan menjadi ciri khas bagi komunitasnya. Namun kalau dicermati, tradisi di bulan Suro yg dilakukan oleh masyarakat Jawa ini adalah sebagai upaya untuk menemukan jati dirinya agar selalu tetap eling lan waspodo.
Eling artinya harus tetap ingat siapa dirinya dan dari mana sangkan paraning dumadi (asal mulanya), menyadari kedudukannya sebagai makhluk Tuhan dan tugasnya sebagai khalifah manusia di bumi, baik bagi diri sendiri maupun orang lain.
Waspodo, artinya harus tetap cermat, terjaga, dan awas terhadap segala godaan yg sifatnya menyesatkan. Karena sebenarnya godaan itu bisa menjauhkan diri dari Sang Pencipta, sehingga dapat menyulitkan kita dalam mencapai manunggaling kawula gusti (bersatunya makhluk dan Sang Khalik).

Bulan Suro sebagai awal tahun Jawa, bagi masyarakatnya juga disebut bulan yg sangat sakral karena dianggap bulan yg suci atau bulan untuk melakukan perenungan, bertafakur, berintrospeksi, serta mendekatkan diri kepada Sang Khalik.
Cara yg dilakukan biasanya disebut dengan lelaku, yaitu mengendalikan hawa nafsu dengan hati yg ikhlas untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Itulah esensi dari kegiatan budaya yg dilakukan masyarakat Jawa pada bulan Suro. Tentunya makna ini juga didapatkan ketika bulan Poso (Ramadhan, Tahun Hijriyah), khususnya yg memeluk agama Islam.
Lelaku yg dilaksanakan oleh masyarakat Jawa sebagai media introspeksi biasanya banyak sekali caranya. Ada yg melakukan lelaku dengan cara nenepi (meditasi untuk merenungi diri) di tempat-tempat sakral seperti di puncak gunung, tepi laut, makam para wali, gua dan sebagainya. Ada juga yg melakukannya dengan cara lek-lekan (berjaga semalam suntuk tanpa tidur hingga pagi hari) di tempat-tempat umum seperti di alun-alun, pinggir pantai, dan sebagainya.

Sebagian masyarakat Jawa lainnya juga melakukan cara sendiri yaitu mengelilingi benteng kraton sambil membisu.
Begitu pula untuk menghormati bulan yg sakral ini, sebagian masyarakat Jawa melakukan tradisi syukuran kepada Tuhan pemberi rejeki, yaitu dengan cara melakukan labuhan dan sedekahan di pantai, labuhan di puncak gunung, merti dusun atau suran, atau lainnya. Dan karena bulan Suro juga dianggap sebagai bulan yg baik untuk mensucikan diri, maka sebagian masyarakat lain, melakukan kegiatan pembersihan barang-barang berharga, seperti jamasan keris pusaka, jamasan kereta, pengurasan enceh di makam-makam, dan sebagainya. Ada juga yg melakukan kegiatan sebagai rasa syukur atas keberhasilan di masa lalu dengan cara pentas wayang kulit, ketoprak, nini thowok, dan kesenian tradisional lainnya. Apapun yg dilakukan boleh saja terjadi asal esensinya adalah dalam rangka perenungan diri sendiri (introspeksi) sebagai hamba Tuhan.
Namun akibat perkembangan zaman serta semakin heterogennya masyarakat suatu komunitas dan juga karena dampak dari berbagai kepentingan yg sangat kompleks, lambat laun banyak masyarakat terutama yg awam terhadap budaya tradisional, ndak lagi mengetahui dengan jelas di balik makna asal tradisi budaya bulan Suro ini. Mereka umumnya hanya ikut-ikutan, seperti beramai-ramai menuju pantai, mendaki gunung, bercanda ria sambil mengelilingi benteng, berbuat kurang sopan di tempat-tempat keramat dan sebagainya. Maka ndak heran jika mereka menganggap bahwa bulan Suro itu ndak ada bedanya dengan bulan-bulan yg lain.

Di sisi lain, ternyata kesakralan bulan Suro membuat masyarakat Jawa sendiri enggan untuk melakukan kegiatan yg bersifat sakral, misalnya hajatan pernikahan. Hajatan pernikahan di bulan Suro sangat mereka hindari. Entah kepercayaan ini muncul sejak kapan, saya juga ndak tahu. Namun yg jelas sampai sekarangpun mayoritas masyarakat Jawa ndak berani menikahkan anaknya di bulan Suro.
Ada sebagian masyarakat Jawa yg percaya dengan cerita Nyi Roro Kidul, penguasa laut selatan yg konon ceritanya setiap bulan Suro, Nyi Roro Kidul selalu punya hajatan atau mungkin menikahkan anaknya (ndak ada yg tahu berapa jumlah anaknya) sehingga masyarakat Jawa yg punya gawe di bulan Suro ini diyakini penganten atau keluarganya ndak akan mengalami kebahagiaan atau selalu mengalami kesengsaraan, baik berupa tragedi cerai, gantung diri, meninggal, mengalami kecelakaan, atau lainnya. Entah kebenaran itu ada atau tidak, yg jelas masyarakat Jawa secara turun-temurun menghindari bulan Suro untuk menikahkan anak. Padahal bagi pemeluk agama Islam, dan mungkin juga pemeluk agama lain, bahwa semua hari dan bulan itu baik untuk melakukan kegiatan apapun termasuk menikahkan anak.

Aneh memang, itulah kepercayaan. Akankah masyarakat Jawa di masa mendatang punya cara lain lagi dalam memaknai bulan Suro ? Jawabannya ada pada anak cucu kita sebagai generasi penerus.

FOTO LEVITASI

Apasih foto Levitasi itu? Levitasi adalah sebuah teknik foto yang objek atau modelnya seolah-olah melayang tanpa menginjak tanah. Meski bukan penemunya, namun teknik foto ini dipopulerkan oleh seorang wanita asal Jepang bernama Natsumi Hayashi yang mempublikasikan foto dirinya dengan teknik levitasi di websiteyowayowacamera.com.

Contoh foto levitasi (sumber: yowayowacamera.com)

Contoh foto levitasi (sumber: yowayowacamera.com)

Mungkin sudah banyak yang kenal dengan komunitas Levitasi Hore, sebuah komunitas yang mengajak para fotografer untuk menunjukkan kreatifitasnya. Komunitas yang dibentuk pada tanggal 25 Desember 2011 ini awalnya tercetus karena rasa penasaran bagaimana membuat foto levitasi dengan menggunakan kamera iPhone (handphone).

Yup, tanpa disadari saat ini kita semua adalah fotografer. Kamera digital seolah sudah jadi fitur wajib di handphone. Tentu bisa dibilang mubazir jika kita hanya menggunakannya untuk memotret makanan yang hendak kita santap. Dengan kualitas kamera digital (pada handphone) yang semakin baik, beberapa teknik foto yang hanya bisa dilakukan lewat kamera SLR kini bisa juga dilakukan dengan menggunakan ponsel.

Tantangan membuat foto levitasi dengan menggunakan ponsel tentu lebih berat daripada menggunakan DSLR karena kemampuan seorang fotografer untuk mengambil foto frozen moment mutlak diperlukan. Seorang model dalam foto levitasi harus terlihat natural, seperti rambut yang tidak boleh terlihat berantakan dan baju yang jangan tersingkap atau menggembung. Ekspresi sang model pun harus terlihat meyakinkan.

Contoh Foto Levitasi (Sumber: levitasihore.tumblr.com)

Tidak adanya burst mode yang bisa menjepret beberapa foto dalam sekali tekan tombol shutter pada handphone tentu membuat seorang fotografer handphone harus ekstra berusaha untuk membuat foto levitasi, tapi justru disitulah letak serunya. Oleh karena itulah komunitas Levitasi Hore ini lebih mengutamakan unsur fun: bagaimana bisa saling berbagi cara membuat foto dengan cara menyenangkan. Bisa dibilang itulah alasan digunakan kata ‘Hore’ di belakang komunitas ini.

Bahkan dengan menggunakan kamera DSLR pun teknik foto levitasi terbilang susah-susah gampang. Foto levitasi menitikberatkan objek fotonya untuk benar-benar melayang melawan gravitasi tanpa bantuan apapun. Memang saat ini ada banyak software yang bisa digunakan untuk memanipulasi gambar secara digital, termasuk membuat sebuah benda seperti melayang. Namun sekali lagi, komunitas Levitasi Hore ini ada untuk berbagi pengalaman fotografi yang seru, bukan untuk sekadar menciptakan foto yang keren secara visual.

Oleh karena itulah komunitas Levitasi Hore mengutamakan foto yang dihasilkan dari acara photowalk (kegiatan membuat foto levitasi secara bersama-sama) untuk dipamerkan di blog levitasihore.tumblr.com. Sebab pada saat photowalk inilah para fotografer berjuang bersama-sama membuat foto levitasi dengan baik dan benar sekaligus bersosialisasi. Tidak heran jika acara photowalk ini seringkali mengundang komunitas lain untuk hunting foto bersama. Namun tidak menutup kemungkinan foto levitasi lain yang bagus yang tidak berasal dari ajang photowalk dipajang di blog, tentunya asalkan terbukti tidak curang.

Contoh Foto Levitasi (Sumber: http://hendynoize.net)

Contoh Foto Levitasi (Sumber: http://hendynoize.net)

Hingga saat ini sudah ada 14 Levitasi Hore Regional yang membantu   mengorganisir kegiatan photowalk di daerah masing-masing. Diantaranya Bandung, Makasar, Medan, Palembang, Surabaya, Semarang, Yogyakarta, Malang, Padang, dan lainnya.

SURAT GUGATAN PERDATA

CONTOH

SURAT GUGATAN

 

Bandung, 20 September 2012

K e p a d a :

Yang Terhormat Ketua

Pengadilan Negeri Bandung

Di – Bandung –

 

 

Dengan Hormat yang bertanda tangan dibawah ini, saya :

 

DR. Ainun Bashori, LLM, MBA Advokat, berkantor di Jl. Gede Bage No. 156 Bandung, berdasarkan surat kuasa tanggal 10 September 2012, terlampir, bertindak untuk dan atas nama :

 

Nama Lengkap             : Afiff Prasetya, SE

Tmpat Lahir                  : Cisarua

Umur / Tanggal Lahir   : 22 Tahun / Juli 1987

Jenis Kelamin               : Laki-laki

Kebangsaan                  : Indonesia

Tempat Tinggal             : Vila Bukit Permata Blok B2 No. 7 Bandung

Agama Islam                : Islam

Pekerjaan                      : Direktur Rumah Makan “Van Osten”

 

Dalam hal ini telah memilih tempat kediaman hukum ( domisili ) di kantor kuasanya tersebut diatas hendak menandatangani dan memajukan surat gugat ini, selanjutnya akan disebut PENGGUGAT.

 

Dengan ini penggugat hendak mengajukan gugatan terhadap :

 

Nama                            : Gesta Septian, S.Pt

Pekerjaan                      : Peternak bebek

Tempat Tinggal             : Jl. Sudirman No. 56 Lembang Bandung

 

Selanjutnya akan disebut TERGUGAT

 

Adapun mengenai duduk persoalannya adalah sebagai berikut :

Bahwa, pada tanggal 20 Agustus 2012, tergugat telah menyepakati perjanjian pengiriman 1000 (seribu) ekor bebek kepada penggugat yang akan dikirim pada tanggal 22 Agustus 2012.

Bahwa, dalam pengiriman 1000 (seribu) ekor bebek tersebut pada tanggal 22 Agustus 2012, tergugat hanya mengirimkan 600(enam ratus) ekor bebek.

Bahwa, tergugat berjanji akan mengirimkan sisa 400(empat ratus) ekor bebek pada tanggal 25 Agustus 2012 kepada penggugat.

Bahwa, pada tanggal 25 Agustus 2012 sisa 400(empat ratus) ekor bebek tidak dikirimkan oleh tergugat.

Bahwa, tergugat berjanji akan melengkapi sisa kekurangan pengiriman 400(empat ratus) ekor bebek sebelum tanggal 5 September 2012. Namun hingga tanggal 10 September 2012 penggugat belum juga menerima sisa bebek tersebut.

Maka berdasarkan segala apa yang terurai diatas, pengugat mohon dengan hormat sudilah kiranya Pengadilan Negeri di Bandung berkenan memutuskan :

 

PRIMAIR :

 

1.         Menghukum tergugat untuk mengirimkan sisa 400 ekor bebek yang belum terpenuhi          tersebut secara nyata kepada penggugat.

2.         Menghukum tergugat untuk membayar ganti rugi kepada penggugat sebesar setengah dari             harga sisa 400 ekor bebek sejumlah Rp. 5.000.000,- (lima juta rupiah) yang didapat dari         400 ekor bebek dikali harga satuan ekor bebek Rp 25.000,- adalah Rp. 10.000.000,-.

3.         Menghukum tergugat membayar biaya perkara ini.

4.         Menyatakan putusan ini dapat dijalankan terlebih dahulu 8 uitvoerbaar bij voorraad )         meskipun timbul verzet atau banding.

 

Apabila pengadilan negeri berpendapat lain :

 

SUSSIDAIR:

 

Dalam perdilan yang baik, mohon keadilan yang seadil – adilnya ( ex aequo et bono )

 

 

Hormat

Kuasa Penggugat.

 

 

DR. Ainun Bashori, LLM, MBA

Asal-Usul Futsal

Olahraga futsal hampir sama dengan sepak bola, yaitu dimainkan oleh dua tim, namun dalam futsal masing-masing tim beranggotakan lima orang. Tujuan juga sama dengan sepak bola yaitu memasukkan bola ke gawang, namun bedanya dalam permainan futsal lapangannya dibatasi garis, bukan net atau papan. Istilah futasal dalam bahasa international berasal dari kata spanyol atau portugi yaitu futbol dan sala. Berikut ini beberapa hal yang dapat kita pelajari tentang sejarah awal mula futsal, seperti yang dilansir wikipedia.

Futsal diciptakan di Montevideo, Uruguay pada tahun 1930, oleh Juan Carlos Ceriani. Keunikan futsal mendapat perhatian di seluruh Amerika Selatan, terutamanya di Brasil. Ketrampilan yang dikembangkan dalam permainan ini dapat dilihat dalam gaya terkenal dunia yang diperlihatkan pemain-pemain Brasil di luar ruangan, pada lapangan berukuran biasa. Pele, bintang terkenal Brasil, contohnya, mengembangkan bakatnya di futsal. Sementara Brasil terus menjadi pusat futsal dunia, permainan ini sekarang dimainkan di bawah perlindungan Fédération Internationale de Football Association di seluruh dunia, dari Eropa hingga Amerika Tengah dan Amerika Utara serta Afrika, Asia, dan Oseania.

Pertandingan internasional pertama diadakan pada tahun 1965, Paraguay menjuarai Piala Amerika Selatan pertama. Enam perebutan Piala Amerika Selatan berikutnya diselenggarakan hingga tahun 1979, dan semua gelaran juara disapu habis Brasil. Brasil meneruskan dominasinya dengan meraih Piala Pan Amerika pertama tahun 1980 dan memenangkannya lagi pada perebutan berikutnya tahun pd 1984.

Kejuaraan Dunia Futsal pertama diadakan atas bantuan FIFUSA (sebelum anggota-anggotanya bergabung dengan FIFA pada tahun 1989) di Sao Paulo, Brasil, tahun 1982, berakhir dengan Brasil di posisi pertama. Brasil mengulangi kemenangannya di Kejuaraan Dunia kedua tahun 1985 di Spanyol, tetapi menderita kekalahan dari Paraguay dalam Kejuaraan Dunia ketiga tahun 1988 di Australia.

Pertandingan futsal internasional pertama diadakan di AS pada Desember 1985, di Universitas Negeri Sonoma di Rohnert Park, California. Futsal The Rule of The Game

Lapangan Futsal

  1. Ukuran: panjang 25-42 m x lebar 15-25 m
  2. Garis batas: garis selebar 8 cm, yakni garis sentuh di sisi, garis gawang di ujung-ujung, dan garis melintang tengah lapangan; 3 m lingkaran tengah; tak ada tembok penghalang atau papan
  3. Daerah penalti: busur berukuran 6 m dari setiap pos
  4. Garis penalti: 6 m dari titik tengah garis gawang
  5. Garis penalti kedua: 12 m dari titik tengah garis gawang
  6. Zona pergantian: daerah 6 m (3 m pada setiap sisi garis tengah lapangan) pada sisi tribun dari pelemparan
  7. Gawang: tinggi 2 m x lebar 3 m
  8. Permukaan daerah pelemparan: halus, rata, dan tak abrasive

Lama Permainan Futsal

  1. Lama normal: 2×20 menit
  2. Lama istiharat: 10 menit
  3. Lama perpanjangan waktu: 2×10 menit (bila hasil masih imbang setelah 2×20 menit waktu normal)
  4. Ada adu penalti (maksimal 3 gol) jika jumlah gol kedua tim seri saat perpanjangan waktu selesai
  5. Time-out: 1 per tim per babak; tak ada dalam waktu tambahan
  6. Waktu pergantian babak: maksimal 10 menit

(Inun MIftahul)

Melatih Reaksi Kiper

Seperti yang sudah kita ketahui umumnya bahwa reaksi merupakan salah satu skill yang harus dimiliki oleh seorang kiper, termasuk kiper futsal maka sudah barang tentu kita membutuhkan menu latihan reaksi.

Seperti pada menu latihan kiper kebanyakan yang dominan dimana kita sulit untuk menemukan menu latihan yang bisa kita lakukan sendiri (tanpa orang lain) karena menu latihan kiper biasanya pasti membutuhkan 1 orang untuk membantu latihan.

Sebenarnya untuk latihan reaksi seorang kiper kita bisa memanfaatkan olahraga serta aktifitas lain loh berikut 4 cara mudah melatih reaksi diantaranya:

1. Beladiri

Dengan melatih beladiri akan melatih reaksi koordinasi tubuh seperti tangan dan mata contohnya. Jika ikut Tae Kwon Do malah bisa melatih kekuatan tendangan.

2. Berolahraga

Dengan berolahraga selain menjaga kebugaran tubuh, kita juga bisa  melatih koordinasi tubuh, misalnya

  • Tenis atau Badminton

Melatih kecepatan berlari, meningkatkan reaksi serta koordinasi antara tangan dan mata, dan juga reaksi sangat dibutuhkan untuk memukul/mengembalikan bola ke arah yang tepat.

  • Basketball

Melatih kedua tangan dan serta kecepatan kaki serta kelenturan pinggang dalam melakukan putaran.

  • Parkour

Meningkatkan koordinasi antara tangan, mata, kecepatan, dan kekuatan kaki, serta kemampuan dalam mengambil keputusan secara cepat.

3. Bermain Video Games

Video games dapat membantu koordinasi tubuh antara mata dengan tangan, dan game yang gue rekomendasiin buat kawan-kawan itu Guitar Hero berapapun lalu pilih level Expert bin tambahin Cheat Hyper Speed. Karena kecepatan dalam video games dapat mempengaruhi raksi mata dengan tangan.

4. Lempar Tangkap

Jika dari cara-cara diatas kawan-kawan masih juga kesulitan, maka cara terakhir adalah dengan melakukan lempar tangkap. Sediakan bola (rekomendasi bola tenis) lalu berdiri dengan tembok dengan jarak antara 2-3 meter. Lalu lempar dan tangkap bolanya (usahain lemparan keras jangan lemah), jika serasa apa yang dilakukan terlalu statis maka mintalah bantuan ke teman untuk melakukan hal ini.

Nah itulah 4 cara mudah dalam melatih reaksi, dan tentu akan sangat berguna untuk seorang kiper futsal. Semoga bermanfaat dan bagi kawan-kawan yang mau menambahan silahkan di kolom komentar dibawah

source: kaskus, experience

 

Euthanasia Dalam Pandangan Hukum Indonesia dan Teori Hukum Alam

            Eutanasia (Bahasa Yunani: ευθανασία -ευ, eu yang artinya “baik”, dan θάνατος, thanatos yang berarti kematian) adalah praktik pencabutan kehidupan manusia atau hewan melalui cara yang dianggap tidak menimbulkan rasa sakit atau menimbulkan rasa sakit yang minimal, biasanya dilakukan dengan cara memberikan suntikan yang mematikan.[1]

Dilihat dalam prakteknya, euthanasia tergolong menjadi dua macam. euthanasia positif atau aktif dan euthanasia negatif atau pasif. Euthanasia positif adalah tindakan dokter mempercepat kematian pasien dengan memberikan suntikan ke dalam tubuh pasien tersebut. Suntikan diberikan pada saat keadaan penyakit pasien sudah sangat parah atau sudah sampai pada stadium akhir, yang menurut perhitungan medis sudah tidak mungkin lagi bisa sembuh atau bertahan lama. Alasan yang biasanya dikemukakan dokter adalah bahwa pengobatan yang diberikan hanya akan memperpanjang penderitaan pasien serta tidak akan mengurangi sakit yang memang sudah parah

Contohnya, seorang yang menderita kanker ganas dengan rasa sakit yang luar biasa hingga penderita sering pingsan. Dalam hal ini dokter yakin bahwa yang bersangkutan akan meninggal dunia. Kemudian dokter memberinya obat dengan takaran tinggi (overdosis) yang sekiranya dapat menghilangkan rasa sakitnya, tetapi menghentikan pernapasannya sekaligus.

Sedangkan euthanasia negatif adalah tindakan dokter menghentikan pengobatan pasien yang menderita sakit keras, yang secara medis sudah tidak mungkin lagi dapat disembuhkan. Penghentian pengobatan ini berarti mempercepat kematian pasien. Alasan yang lazim dikemukakan dokter adalah karena keadaan ekonomi pasien yang terbatas, dana yang dibutuhkan untuk pengobatan sangat tinggi, dan fungsi pengobatan menurut perhitungan dokter sudah tidak efektif lagi. Terdapat tindakan lain yang bisa digolongkan euthanasia pasif, yaitu tindakan dokter menghentikan pengobatan terhadap pasien yang menurut penelitian medis masih mungkin sembuh. Alasan yang dikemukakan dokter umumnya adalah ketidakmampuan pasien dari segi ekonomi, yang tidak mampu lagi membiayai dana pengobatan yang sangat tinggi.

Contohnya orang yang mengalami keadaan koma yang sangat lama. Dalam keadaan demikian ia hanya mungkin dapat hidup dengan mempergunakan alat bantu pernapasan di ruang ICU atau ICCU.[2] Alat pernapasan itulah yang memompa udara ke dalam paru-parunya dan menjadikannya dapat bernapas secara otomatis. Jika alat pernapasan tersebut dihentikan, si penderita tidak mungkin dapat melanjutkan pernapasannya.

Ada yang menganggap bahwa orang sakit seperti ini sebagai `orang mati` yang tidak mampu melakukan aktivitas. Maka memberhentikan alat pernapasan itu sebagai cara yang positif untuk memudahkan proses kematiannya.

Setelah melihat berbagai sumber dan sedikit memahami konsep euthanasia, saya pribadi sangat tidak setuju dengan adanya praktek demikian dalam dunia medis. Namun banyak sumber yang memiliki perbedaan pendapat, bahwa euthanasia dapat diberlakukan dengan alasan tertentu.

Mereka yang menyetujui tindakan euthanasia berpendapat bahwa euthanasia adalah suatu tindakan yang dilakukan dengan persetujuan dan dilakukan dengan tujuan utama menghentikan penderitaan pasien. Prinsip kelompok ini adalah manusia tidak boleh dipaksa untuk menderita. Dengan demikian, tujuan utama kelompok ini yaitu meringankan penderitaan pasien dengan memperbaiki resiko hidupnya.

Kelompok yang kontra terhadap euthanasia berpendapat bahwa euthanasia merupakan tindakan pembunuhan terselubung, karenanya bertentangan dengan kehendak Tuhan. Kematian semata-mata adalah hak dari Tuhan, sehingga manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan tidak mempunyai hak untuk menentukan kematiannya.

Saya berpendapat bahwa euthanasia adalah suatu tindakan yang juga menciderai nilai-nilai Hak Asasi Manusia sebagaimana yang tersirat pada amandemen UUD NRI 1945 Pasal 28A.

Dilihat dari sudut pandang hukum positif, euthanasia juga dikualifikasikan dalam Pasal 344 KUHP “Barang siapa menghilangkan jiwa orang lain atas permintaan orang itu sendiri, yang disebutkannya dengan nyata & sungguh-sungguh dihukum penjara selama-lamanya duabelas tahun.”

Ditinjau dari sudut agama, Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma’ruf Amin mengatakan MUI telah lama mengeluarkan fatwa yang mengharamkan dilakukannya tindakan Euthanasia (tindakan mematikan orang untuk meringankan penderitaan sekarat).[3]

Dikaitkan dengan Teori Hukum Alam, hukum itu berlaku secara universal dan bersifat pribadi, Hukum alam dipengaruhi oleh pandangan atau keyakinan bahwa seluruh alam semesta yang ada dimana diciptakan dan diatur oleh Tuhan. dan hukum alam ini berakar pada suatu aturan alam metafisis sebagaimana direncanakan Tuhan YME.[4]

Menyikapi masalah euthanasia, dalam firmannya Allah SWT “Dan barang siapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah neraka jahanam, kekal ia didalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutuknya serta menyediakan azab yang besar baginya.” (QS An-Nisa’ : 93)

“Janganlah kalian membunuh jiwa yang diharamkan Allah (untuk membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar.” (QS al-An‘am [6]: 151)

Karena itu, apapun alasannya (termasuk faktor kasihan kepada penderita), tindakan euthanasia jelas tidak dapat diterima. Di dunia ini tidaklah boleh dari seorangpun untuk mendahului segala sesuatu tanpa kehendak sang kuasa.

Orang yang menghendaki euthanasia, walaupun dengan penuh penderitaan bahkan kadang-kadang dalam keadaan sekarat dapat dikategorikan putus asa, dan putus asa tidak diperbolehkan dihadapan Allah SWT. Tapi tidak pas juga rasanya bila putusan hakim dalam pidana mati pada seseorang yang segar bugar, dan tentunya sangat tidak ingin mati, dan tidak dalam penderitaan apalagi sekarat, tidak pernah dikaitkan dengan argumentasi teori hukum alam apalagi dikaitkan dengan agama.

Alasan yang menjelaskan bahwa euthanasia membawa nilai-nilai kekuatan Hak Asasi Manusia harus benar-benar ditegakkan, manusia berhak untuk hidup,berhak untuk memiliki penghidupan yang layak.

Benar bahwa manusia tidaklah hanya bergantung pada takdir Allah SWT, jika hanya saja menunggu takdir Allah mungkin di dunia ini tidak ada manusia yang berobat ke dokter saat sakit. Kalau seseorang berupaya mengobati penyakitnya maka dapat pula diartikan sebagai upaya memperpanjang umur atau menunda proses kematian.

Suatu nilai kemanusian yang dapat diambil dari peristiwa ini adalah manusia harus kembali pada hukum alam dimana segala sesuatunya hanyalah milik Sang Pencipta. Sebagai manusia kita hanya mampu berusaha yang terbaik, namun juga tidak melupakan awal dimana hukum ini tercipta. Selain dari hukum Tuhan tersebut juga adanya lex eternal atau norma-norma yang timbul dari dalam diri sendiri.(Inun Miftahul)


[1] Dikutip dari Wikipedia, Euthanasia.

[2] Dikutip dari berbagai sumber euthanasia positif/aktif dan euthanasia negative/pasif.

[3] hidayatullah.com, MUI Haramkan Euthanasia, Saturday, 23 October 2004 04:21 Nasional

[4] Disadur dari berbagai resensi yang mengatakan bahwa teori hukum alam adalah bersumber kepada Tuhan YME

Light & Shadow Study #6

sharp colors depict the character